Patah tulang merupakan suatu kondisi terputusnya kontinuitas struktur jaringan tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh suatu trauma. Patah tulang dapat terjadi ketika seseorang mengalami trauma, berupa cedera saat beraktivitas fisik terlalu berat, saat menopang tubuh ketika terjatuh, ataupun saat terhantam suatu benda. Patah tulang umumnya terbagi menjadi 2 jenis, yaitu patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka. Patah tulang tertutup merupakan patah tulang dengan keadaan kulit utuh, tulang tidak tampak karena tidak keluar ke kulit. Patah tulang terbuka adalah patah tulang yang menimbulkan kerusakan pada kulit, tulang dapat dilihat, dan menembus ke luar kulit. Penanganan patah tulang sendiri terbagi menjadi beberapa cara yang jika digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu penanganan tanpa operasi dan dengan operasi. Tentunya, kondisi patah tulang harus ditangani dengan dokter ortopedi terbaik Surabaya agar tidak terjadi komplikasi yang memperburuk kondisi di kemudian hari.
Penanganan Tanpa Operasi
Penanganan patah tulang tanpa metode operasi, meliputi imobilisasi, reduksi, dan rehabilitasi.
1. Imobilisasi
Imobilisasi pada patah tulang adalah tindakan untuk menjaga tulang yang cedera agar tidak bergerak berlebihan selama proses penyembuhan. Imobilisasi dilakukan dengan cara memasang gips atau alat lainnya.
Imobilisasi memiliki beberapa manfaat, di antaranya:
- Menstabilkan cedera awal
- Mencegah cedera lebih lanjut
- Mengurangi rasa sakit
- Membantu proses penyembuhan
2. Reduksi
Reduksi adalah proses untuk mengembalikan posisi tulang yang patah ke posisi semula. Reduksi dilakukan untuk memperbaiki kesejajaran tulang, mengurangi penekanan, dan meregangkan saraf dan pembuluh darah.
Ada dua jenis reduksi, yaitu reduksi tertutup dan reduksi terbuka:
- Reduksi tertutup
Tidak dilakukan pembedahan atau sayatan, dan biasanya dilakukan bersamaan dengan imobilisasi menggunakan gips.
- Reduksi terbuka
Dilakukan di dalam ruang operasi dengan pembedahan. Prosedur ini biasanya dilakukan pada kasus patah tulang yang lebih kompleks.
Setelah reduksi, pasien perlu melakukan fisioterapi untuk memulihkan fungsi tulang yang mengalami fraktur. Fisioterapi dapat dilakukan dengan latihan Rentang Pergerakan Sendi/Range of Motion (ROM) aktif atau pasif.
3. Rehabilitasi
Rehabilitasi pada patah tulang bertujuan untuk membantu memulihkan fungsi tubuh dan mempercepat proses penyembuhan. Rehabilitasi pada patah tulang biasanya dilakukan dengan fisioterapi yang mencakup:
- Latihan penguatan untuk membangun kembali otot yang melemah
- Latihan fleksibilitas dan rentang gerak untuk mencegah kekakuan
- Latihan berat beban terkontrol untuk memastikan tulang pulih dengan baik
- Teknik manual untuk memperbaiki penyesuaian tulang
Rehabilitasi keseimbangan dan koordinasi untuk mencegah jatuh dan cedera tambahan
Terapi panas/es, TENS, ultrasound untuk mengelola nyeri dan peradangan
Penanganan dengan Operasi
Penanganan patah tulang dengan operasi atau pembedahan, meliputi Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dan Open Reduction External Fixation (OREF). ORIF merupakan prosedur pembedahan yang dilakukan dengan memasukkan alat seperti paku, kawat, atau pin ke dalam area patah tulang. ORIF dilakukan untuk mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap dan membantu tulang bersatu. ORIF biasanya dilakukan untuk fraktur tulang rumit yang tidak dapat disejajarkan kembali dengan gips. Sedangkan OREF merupakan prosedur pembedahan yang dilakukan dengan pembalutan, gips, bidai, atau pin. OREF dilakukan dengan mentransfiksasikan sekrup atau kawat di atas dan di bawah fraktur, kemudian dihubungkan dengan batang lain.
Patah tulang harus segera diobati dan dibawa ke rumah sakit. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Serta, untuk menentukan metode pengobatan yang ada dokter dan tenaga kesehatan perlu untuk memeriksa secara lisan, fisik, dan penunjang. Jangan remehkan patah tulang, karena dapat membuat komplikasi di kemudian hari!